Mari melihat ke tahun 1700-an, dimasa Benua Eropa mengalami apa yang disebut dengan Revolusi Industri.  Waktu itu terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Berawal di Inggris, dimulai dengan kesuksesan merevolusi produksi kain katun menggunakan mesin baru yang digerakkan dengan kincir air yang kemudian digantikan oleh mesin uap. Mekanisasi produksi kain katun secara masif telah meningkatkan  produktifitas para pekerja di sektor industri tekstil dan bidang-bidang industri lainnya. Motor yang menggerakkan perekonomian pada masa itu adalah semangat inovasi yang ditunjukkan oleh para wirausahawan serta pebisnis baru, yang dengan antusias menerapkan ide-ide revolusioner mereka.

Sehingga, ekonomi yang semula bergantung kepada sektor pertanian berubah ke sektor industri. Akibatnya muncul industri dimana-mana. Muncul kota-kota industri baru di Inggris yaitu kota Manchester, Birmingham, Liverpool dan Glasgow. Gelombang yang mengguncang inggris itu dengan cepat menyebar ke kawasan Atlantik Utara hingga mencapai Amerika Serikat.

Revolusi industri tidak bisa dilepaskan dengan kapitalisme. Adalah Adam Smith (1723-1790) yang paling terkenal dan dikenal sebagai Bapak Kapitalisme. Lahir di Kirkcaldy, Skotlandia, dan meninggal dan meninggal di Edinburgh, Skotlandia pada usia 67 tahun. Teori ekonominya yang terkenal adalah “laissez-faire”. Smith percaya bahwa kemajuan ekonomi bergerak bebas tanpa perlu dikendalikan. Tidak memerlukan peran kelompok atau negara. Sampai pada satu titik, ekonomi akan menemukan keseimbangan, tapi kemudian akan bergerak kembali menuju keseimbangan baru. Karena itu persaingan secara bebas adalah keniscayaan. Setiap orang memiliki kesempatan untuk bersaing secara sempurna.

Teori ini ternyata mampu membawa eropa ke masa proto-industrialisasi dan mengubah mayoritas kawasan Eropa menjadi daerah perdagangan bebas, dan membuat lahirnya banyak pengusaha-pengusaha baru.

Kapitalisme lahir dari perlawanan terhadap hegemoni elite yang berkuasa pada masa sebelumnya, yaitu masa kegelapan Eropa. Ada tiga elite yang menguasai kekuasaaan dan memonopoli pengetahuan dan kebenaran yaitu Raja, Gereja dan Kaum Feodal atau Tuan Tanah. Di bidang ekonomi para tuan tanah menguasai aset.  Lahan pertanian dikuasai oleh mereka. Rakyat banyak tidak memiliki tanah hanya bisa menyewa. Meskipun terjadi gagal panen tuan tanah tetap memaksa rakyat untuk membayar sewa. Akibatnya terjadi kesenjangan yang sangat tinggi. Kemiskinan di mana-mana sementara para tuan tanah menikmati hidup yang bergelimang kemewahan.

Sebelum ide Kapitalisme yang melahirkan revolusi industri, para raja sangat kuat penentangannya atas berbagai temuan inovasi teknologi. Kisah William Lee (1583) di Inggris dan Dionysius Papin (1679) di Jerman menjadi contoh. William Lee merupakan penemu alat perajut otomatis, yaitu sebuah mesin yang dapat merajut benang dengan sangat cepat dibanding dengan cara manual. Dengan harapan membuncah, temuan tersebut disampaikan kepada Ratu Elizabeth I untuk mendapatkan hak paten. Namun sang ratu menolak alat tersebut. Alasannya, Ratu khawatir rakyat akan menganggur jika alat tersebut diaplikasikan. Setelah mendapat penolakan dari Ratu Inggris, Lee berangkat ke Perancis untuk mendapat dukungan dari Raja James I. Lagi-lagi jawaban yang sama dia terima.

Nasib Dionysius Papin lebih naas. Papin adalah seorang guru besar matematika di Universitas Marburg, Kassel, Jerman. Dia adalah penemu steam digester yaitu mesin penyerap uap. Dari penemuan pertama ini, dia sempurnakan menjadi sebuah mesin piston uap. Mesin tersebut, ia pasang pada sebuah kapal uap pertama di dunia. Untuk mendapatkan pengakuan atas temuannya tersebut, Papin melakukan perjalanan dari Sungai Fulda menuju ke Sungai Weser. Namun dalam perjalanan kapalnya dihancurkan oleh sekelompok orang. Papin kemudian menganggur dan meninggal sebagai gelandangan.

Penolakan yang dilakukan elite penguasa pada masa itu sebenarnya tak lebih dari ketakutan atas hak-hak istimewa dan kekuasaan politik yang selama ini sudah dinikmati.

Selanjutnya tentang kebenaran atas pengetahuan dan aturan sepenuhnya menjadi milik raja dan gereja. Setiap gagasan dan pendapat yang berbeda tidak akan diakomodasi. Nasib yang memprihatinkan dialami oleh ilmuwan pada masa itu seperti Galileo Galilei (1564-1642). Galileo Galilei adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan. Dia adalah penyempurna atas penemuan teleskop. Dari alat yang dia sempurnakan, Galileo menyimpulkan bahwa bumi adalah bulat dan merupakan bagian dari sistem tata surya dimana matahari menjadi pusatnya. Pendapat Galileo mendapat tentangan dari Gereja. Galileo dianggap telah melanggar doktrin gereja bahwa bumi adalah datar dan pusat alam semesta. Akibatnya, ia dihukum dengan pengucilan atau tahanan rumah sampai meninggal.

Sebelumnya Nicolaus Copernicus (1473 – 1543), seorang astronom, politikus, ekonom, dan diplomat yang lahir di Polandia telah mengatakan hal yang sama. Copernicus menyatakan bahwa tata surya bersifat heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya). Namun dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk melawan doktrin gereja tentang sifat tata surya.

Perlawanan ilmuwan dan rakyat terhadap kekuasaan raja dan gereja ini melahirkan pemahaman dan gerakan liberalisme. Serupa dengan kapitalisme, substansi liberalisme adalah kebebasan. Bebas untuk menentukan hidup, berpendapat dan menentukan aturan. Tidak ada lagi pengaruh dari aturan agama. Aturan hidup disusun menurut keinginan manusia. Sedangkan aturan agama hanya hidup dan diakui diruang-ruang ibadah atau gereja.

Karena lahirnya Kapitalisme dan Liberalisme sebagai bentuk perlawanan atas kekuasaan elite  penguasa dan gereja, membuat ide ini menjadi pemahaman yang bebas nilai, menurut kehendak manusia mayoritas yang cenderung mengabaikan nilai dan norma-norma. Salah satu karakter kapitalisme adalah memaksimalkan keuntungan yang sebesar-besarnya dan meminimalkan pengeluaran sekeci-kecilnya.

Akibatnya, revolusi industri yang diinspirasi oleh kapitalisme tersebut melahirkan berbagai dampak bagi manusia dan lingkungan.

Dampak tersebut berupa meningkatnya arus urbanisasi ke kota-kota industri sehingga jumlah tenaga makin melimpah. Konsekuensinya, upah tenaga kerja menjadi murah. Selain itu, jaminan sosial pun kurang sehingga kehidupan buruh menjadi susah. Bahkan, para pengusaha banyak memilih tenaga buruh wanita dan anak-anak yang upahnya lebih murah.

Pada tahun 1820-an terjadi huru hara yang ditimbulkan oleh penduduk kota yang miskin dengan didukung oleh kaum buruh di Inggris. Gerakan sosial ini menuntut adanya perbaikan nasib rakyat dan buruh. Akibatnya, pemerintah mengeluarkan undang-undang yang menjamin perbaikan nasib kaum buruh dan orang miskin.

Dampak terhadap lingkungan tak dapat dielakkan akibat dari revolusi industri. Sungai-sungai yang tadinya jernih berubah menjadi kelam dan kotor. Menurut Henry Lansford (1986), antara tahun 1849-1853 sungai Thames di London telah menjadi tempat sampah. Akibatnya, 20.000 penduduknya meninggal karena wabah kolera. Sungai Rhine di Belanda yang dikenal dengan selokan Eropa, pada waktu aliran sungai tersebut sampai di pantai Belanda, airnya mengandung 20% sampah dan limbah industri. Sungai Iset di Rusia (tadinya Uni Soviet) juga sarat dengan limbah industri yang mudah menguap dan terbakar jika ada puntung rokok yang dilemparkan ke dalamnya.

Pada masa yang sama pula epidemi typus melanda banyak kota di Amerika serikat. Bukti-bukti tidak langsung menyebutkan bahwa penyakit tersebut ditularkan melalui air minum yang tercemar. Lagi-lagi disinyalir karena pencemaran sungai oleh industri yang menginfiltrasi air tanah.

Desakan kepada industri agar bertanggung jawab terhadap keputusan dan kegiatan bisnisnya terjadi sangat kencang di Amerika Serikat. Sejumlah pakar ekonomi dan bisnis pada masa itu menyoroti dengan tajam terhadap persoalan tanggung jawab perusahaan.

Pada awal 1916, John Maurice Clark,  menekankan pentingnya transparansi dalam berbisnis, dia menulis dalam Journal of Political Economy  sebagai berikut, “jika seorang laki-laki bertanggung jawab atas akibat dari tindakannya, maka tanggung jawab perusahaan harus dilakukan dengan keterbukaan dari transaksi bisnisnya, terlepas dari diatur oleh hukum atau tidak “.

Pada awal 1930-an, Profesor Theodore Kreps memperkenalkan mata kuliah bisnis dan kesejahteraan sosial ke Universita Stanford. Dia menggunakan istilah “audit sosial” untuk pertama kalinya berkaitan dengan pelaporan perusahaan terkait tanggung jawab sosial.

Peter Drucker, dalam buku keduanya The Future of Industrial Man yang dirilis pada tahun 1942, menyoal pertumbuhan industri secara radikal telah mendominasi kehidupan ekonomi dan merampas kebebasan individu. Sehingga sebuah tatanan baru harus diciptakan untuk menghasilkan kehidupan yang lebih bermakna. Drucker menuliskan bahwa industri seharusnya memiliki dimensi sosial selain tujuan ekonomi sebagai bentuk tanggung jawab.

Corporate Social Responsibility(CSR) pertama kali didefinisikan oleh Howard R. Bowen pada tahun 1953. Dia adalah seorang ahli ekonomi. Menurut Bowen dalam bukunya yang berjudul Responsibilities of the Businessman, CSR merupakan sebuah kewajiban pengusaha untuk bertanggung jawab atas kebijakan, membuat keputusan dan tindakan bisnis agar sejalan dengan tujuan dan nilai-nilai di masyarakat. Pemikiran Bowen dalam buku tersebut dipandang oleh berbagai kalangan sebagai pondasi dalam studi CSR.

Menurut Archie B. Carrol, ada empat momentum peristiwa yang membuat CSR semakin disadari dan diadopsi dalam dunia usaha khususnya di Amerika Serikat.

Pertama, adalah  isu perlindungan kosumen. Dipelopori oleh buku yang ditulis oleh Ralp Nader yaitu Unsafe at any Speed : The Designed-In Dangers of the American Automobile (1963).  Nader dalam buku ini menyampaikan sanggahan atas klaim dari industri otomotif tentang kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian pengendara. Menurut Nader justru sebaliknya, industri otomotiflah yang telah gegabah memproduksi mobil yang tidak memperhatikan aspek keselamatan. Pada bab awal buku tersebut, Nader mengambil satu kasus, yaitu kegagalan mobil Chevrolet Corvair yang diproduksi General Motors (GM) dalam menyediakan sistem keselamatan pada mobil tersebut. Akibatnya terjadi banyak kecelakaan. GM sendiri menyangkal bahwa penyebab kecelakaan adalah mobil tersebut, melainkan oleh pengendaranya sendiri.

Karena masifnya pengaruh buku ini terhadap publik, GM melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan sikap mereka bahkan melayangkan berbagai tuduhan kepada Nader yang menjurus kepada penghancuran karakter. Nader tidak tinggal diam, ia mengajukan tuntutan kepada GM ke pengadilan atas tuduhan yang tidak berdasar dan invasi kepada pribadinya. Pengadilan memenangkan Nader dan memerintahkan GM untuk membayar denda sebesar $425,000. Oleh Nader, uang tersebut digunakan untuk memperjuangkan hak-hak konsumen.

Kurang dari setahun setelah buku itu diterbitkan, Kongres Balky membentuk lembaga keselamatan federal yang dikenal dengan National Highway Traffic Safety Administration – sebuah lembaga yang bertujuan untuk membangun sistem keselamatan dan terjadinya kecelakaan.

Kedua, adalah gerakan hak asasi manusia (HAM). Di motori oleh Dr. Marthin Luther King, seorang pendeta Afrika-Amerika yang terkenal dalam perjuangan melawan diskriminasi rasial. Peristiwa yang mengawali adalah di tahun 1955, ketika seorang bernama Rosa Parks, wanita penjahit berkulit hitam menaiki sebuah bus sepulang kerja. Karena lelah dia mengambil tempat duduk yang kebetulan kosong. Namun selang berapa lama masuklah penumpang berkulit putih. Oleh supir, Rosa diminta untuk memberikan tempat duduknya namun ia menolak. Akibatnya, Rosa ditahan dan didenda sebesar 10 dolar Amerika.

Kejadian ini menimbulkan kemarahan orang kulit hitam. Dr. King menyerukan boikot kepada seluruh kaum Negro di Montgomery untuk tidak lagi menaiki bus. Aksi ini berlangsung selama 382 hari. Sebagai gantinya setiap orang kulit hitan memilih berjalan kaki demi memperjuangkan kebebasan dan keadilan.

Bagi Dr. King dan rekan-rekan sejawatnya peristiwa itu menjadi momentum yang sangat tepat untuk bergerak memprotes ketidakadilan yang selama ini mereka terima. Meskipun merasa sangat kesal namun Dr. King tidak menggunakan cara-cara kekerasan. Dalam aksi protesnya Dr. King menempuh jalan damai dan anti kekerasan serta mengambil sikap pasif terhadap hukum yang dinilai tidak adil.

Pidatonya dengan judul ” I have a dream ” dihadapan lebih dari 250.000 orang massa di Washington, DC pada 28 Agustus 1963 membuatnya semakin terkenal. Ia dipuja dengan banyak gelar terhormat. Pada 1963, ia menerima Penghargaan Nobel Perdamaian.

Ia ditembak hingga meninggal dunia saat melakukan aksi di Memphis pada 4 April 1968. Guncangan dari kematiannya menyebabkan banyak kerusuhan dan bentrokan di berbagai kota di seluruh Amerika Serikat.

Satu setengah dekade setelah pembunuhan terhadapnya pada tahun 1968, Amerika Serikat menetapkan sebuah hari libur untuk memperingatinya, Hari Martin Luther King.

Ketiga, Isu lingkungan. Dipelopori oleh sebuah buku berjudul Silent Spring, yang ditulis oleh Rachel Carson pada tahun 1962 . Ini adalah sebuah buku environmental science yang menggambarkan efek yang sangat merugikan akibat dari penggunaan pestisida. Dalam buku ini, Carson menuduh industri kimia telah menyebarkan informasi sesat dan pejabat publik menerima klaim industri begitu saja.

Keprihatinan Carson dimulai pada akhir 1950-an, saat itu ia tengah fokus kepada isu konservasi lingkungan. Ia percaya banyak persoalan lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan pestisida sintetis. Kegelisahan inilah yang menghasilkan buku Silent Spring, yang membawa masalah lingkungan kepada publik Amerika. Apa yang Carson kemukakan dalam bukunya mendapat perlawanan sengit dari perusahaan kimia.

Untunglah, tekanan publik berpihak kepada Carson sehingga mendorong perubahan terhadap kebijakan pestisida nasional. Hasilnya, pemerintah mengeluarkan aturan pelarangan DDT untuk keperluan pertanian secara nasional.

Buku ini pula yang juga menginspirasi gerakan lingkungan lebih jauh sehingga melahirkan Badan Perlindungan Lingkungan yang diberi nama US Environmental Protection Agency.

Keempat, adalah isu gender. Momentumnya adalah buku non fiksi berjudul Feminine Mystique yang dikarang oleh Betty Friedan pada tahun 1963. Buku ini menggambarkan apa yang disebut Friedan dengan “masalah yang tidak memiliki nama”- yaitu ketidakbahagiaan secara luas dialami perempuan di tahun 1950-an dan awal 1960-an. Digambarkan dalam buku ini kehidupan beberapa ibu rumah tangga di Amerika Serikat yang merasa tidak bahagia meskipun hidup berkecukupan secara materi dan memiliki anak-anak. Ternyata ada hal lain diinginkan oleh para wanita untuk memperoleh kebahagiaan yaitu aktualisasi diri seperti bekerja sebagai wanita karir.

Buku ini ternyata berpengaruh luas. Kalangan politisi berpihak terhadap rasa frustrasi perempuan seperti yang disebutkan dalam buku tersebut. Sehingga kemudian dibentuk sebuah komisi di legislatif untuk meninjau status perempuan untuk mengakhiri mengakhiri ketidakadilan. Pada tahun 1963, dikeluarkan aturan “The Equal Pay Act” yang menetapkan bahwa perempuan menerima gaji yang sama dengan laki-laki untuk pekerjaan yang sama.

Dewasa ini gagasan dan praktek CSR telah berkembang luas, mempengaruhi seluruh lini bisnis di berbagai negara di dunia. Sorotan terhadap industri agar melakukan CSR semakin luas karena dunia dihadapkan dengan isu kerentanan global mulai dari banjir, bencana longsor, hingga perubahan iklim.  Semua itu menuntut kepedulian seluruhstakeholders dunia terutama dunia usaha. Perubahan bentang alam dan kerusakan lingkungan dalam banyak kasus disebabkan oleh praktek kapitalis yang eksploitatif dan mengabaikan kepentingan manusia dan alam itu sendiri.

Memahami karakter kapitalisme yang eksploitatif dan merusak, maka tanggung jawab sosial perusahaan tidak dapat dijadikan sekedar himbauan atau praktek beyond compliance. Namun, dalam sejumlah isu harus ilembagakan dalam kesepakatan global dan perundang-undangan di setiap negara agar pelaku dunia usaha yang kapitalistik dapat dikendalikan.

Sumber: Kompasiana.com