Usai mengunjungi GOR PB Djarum, masih di dalam komplek yang sama, rombongan kemudian menghadiri diskusi. Sesi ini juga merupakan acara inti dari kegiatan Cultural Visit CSR Society pada 12 September 2013 lalu. Baik dalam suasana rileks saja, enggak usah tegang, yang penting kita tetap berada dalam suasana kebersamaan, mari kita buka diskusi ini kata Sindaka selaku ketua panitia acara mengakhiri kata sambutannya. Untuk membuka forum, panitia lantas mempersilahkan Gunawan Alif, seorang akademisi dari Universitas Indonesia.

Indonesia CSR Society

Gunawan yang menyebut dirinya sebagai mantan praktisi sekaligus pengajar itu, melihat latar belakang lahirnya forum CSR Society, berangkat dari beragamnya permasalahan dan sudut pandang dalam kegiatan CSR Indonesia. Ia mengisahkan awalnya forum CSR bercikal bakal dari pertemuan informal di sebuah restoran di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, antara Didik Kuntadi dari PT. Antam, Rudijanto Gunawan dari Djarum Foundation, Artsanti dari Japfa Comfeed, dan termasuk dirinya sendiri. Dari situlah, sambungnya, dimulai menggodok ide untuk meluaskan pertemuan itu menjadi forum.

Ternyata gayung bersambut, dan saya menghaturkan terima kasih kepada Bapak Rudi dan Bapak Suwarno Serad yang telah memfasilitasi acara ini, sehingga akhirnya kita bisa berkumpul di sini, katanya. Karena diikuti sekurangnya sembilan perusahaan, tentu saja pertemuan itu diharapkannya akan berkembang menjadi lebih solid lagi. Selanjutnya, Gunawan memperkenalkan satu persatu peserta forum yang mewakili berbagai perusahaan, dan mempersilahkan Didik Kuntadi untuk memimpin pertemuan tersebut.

Menyambung pernyataan dari Gunawan Alif, Didik mengatakan ide pembentukan CSR itu sendiri, sebenarnya sudah lama juga ia gagas. Hal itu sudah pernah ia lontarkan bersama rekannya di beberapa perusahaan multinasional, seperti Coca Cola Amatil Indonesia, Nestle, Danone, dan P&G, seiring dengan dibentuknya Human Resources Director Forum pada tahun 2000 yang juga dinahkodai oleh DIdik. Hanya saja, Didik mengenang, gagasan forum CSR itu tidak berjalan optimal karena kesibukan masing-masing rekan.

Selain itu, Didik mengungkapkan bahwa pertemuan CSR Society di Djarum Kudus saat itu, sebetulnya bisa mengajak lebih banyak perusahaan lagi, tapi terbentur oleh agenda internal perusahaan masing-masing. Kemudian Didik menyampaikan usulannya dalam bentuk charter atau poin-poin kesepakatan yang bisa dibahas di dalam forum.

Sementara itu, Suwarno H. Serad, selaku tuan rumah dan salah seorang pendiri Djarum Foundation menjelaskan, ada beberapa tahapan proses untuk membentuk forum. Pertama, diawali dari forum lalu selanjutnya bergerak menuju forming. Orang Indonesia itu kan punya kebiasaan kalo membuat forum itu biasanya setelah itu bubar, ya, bubar benaran, padahal tahapan selanjutnya adalah forming,storming, norming, performing, terangnya dengan nada berseloroh disambut gelak tawa forum.

Sedangkan Kusumo Adinugroho dari Total E&P Indonisie, menekankan pentingnya untuk menyamakan persepsi lebih dahulu, berikut dengan pelbagai mazhab yang menyertainya, terkait definisi CSR. Ia juga mengungkapkan permasalahan mendesak dan sekaligus strategis untuk dirumuskan adalah soal bagaimana CSR perusahaan menyikapi peraturan perundang-undangan di mulai dari pusat hingga daerah. Untuk itulah saya kira, salah satu tujuan forum ini didirikan, tandasnya.

Yang menarik Gunawan juga membeberkan hasil risetnya selaku peneliti. Ketika kegiatan CSR, lanjutnya, lebih condong pada motif ekonomi, maka hasilnya adalah negatif baik soal kepercayaan terhadap perusahaan, maupun kepuasan karyawan pada pekerjaan. Masalah ini dipandang potensial mencuat menjadi wacana publik, sehingganya dibutuhkan forum CSR antar perusahaan yang kuat untuk menyikapinya.

Md|Fz