Sesuai rencana, Masyarakat Cagak Sawita Rupa Indonesia (MCSRI) atau Indonesia CSR Society akhirnya diresmikan eksistensinya secara formal. Peristiwa bersejarah ini berlangsung di Museum Nasional, Jakarta, pada Rabu, 27 Januari 2016.

Mewakili Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa yang berhalangan hadir, peresmian perhimpunan para praktisi CSR ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Hartono Laras, Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Kementerian Sosial RI.

Hadir dalam acara ini Ketua MCSRI, Dr. M. Gunawan Alif, para pengurus dan para wakil perusahaan anggota perhimpunan yang saat ini terdiri dari 16 perusahaan, yakni Antam, Arnott’s, BCA, Chevron Indonesia, Dan Liris, Djarum Foundation, Freeport Indonesia, Holcim, Jakarta Baru Multimedia, Jakarta Post, Japfa Comfeed Indonesia, Kelly Services, Kompas, Trakindo, Unilever dan XL Axiata. Hadir pula para pejabat Kementerian Sosial RI, para wakil berbagai perusahaan dan lembaga swadaya masyarakat, para akademisi dan peminat CSR serta para jurnalis.

Pentingnya inisiatif CSR
Acara dibuka dengan sambutan oleh Ketua MCSRI, Dr. M. Gunawan Alif. Dalam sambutannya, Ketua MCSRI memaparkan bahwa terbentuknya perhimpunan ini didorong oleh kemauan yang kuat untuk menyebarluaskan pentingnya mengembangkan  inisiatif-inisiatif  CSR, karena inisiatif seperti ini memang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup yang baik, bukan saja bagi dunia bisnis namun juga bermanfaat untuk masyarakat luas.

“Pembentukan perhimpunan ini dilakukan untuk memberikan kesempatan bagi praktisi CSR untuk  bertemu secara  teratur, membentuk jejaring dan mendiskusikan secara terbuka, bertukar dan berbagi pandangan serta informasi mengenai berbagai topik dan permasalahan yang berkaitan dengan kebijakan dan praktik CSR pada saat ini maupun yang akan menjadi trend secara umum, serta rencana dan strategi masa depan di Indonesia,” kata Gunawan Alif.

Selain itu, menurut Gunawan Alif, tujuan-tujuan lainnya yang akan melibatkan para pemangku kepentingan dan berbagai pihak di luar anggota perhimpunan meliputi kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan, pendidikan dan penyebaran inisiatif CSR, seminar, pelatihan dan loka-karya dengan melibatkan pembicara tamu mengenai topik-topik CSR yang menarik bagi masyarakat, perusahaan dan liputan media.

“Sejumlah program dan inisiatif bersama dalam Masyarakat Cagak Sawita Rupa Indonesia telah dirancang untuk dilaksanakan di waktu-waktu mendatang. Kerjasama dengan pihak yang memiliki pandangan dan keinginan untuk meningkatkan peran aktif dalam tanggung jawab sosial dan lingkungan juga sangat terbuka untuk diciptakan, berupa sinergi dan inisiatif yang lebih berdayaguna,” papar Ketua MCSRI.

Kemitraan dengan pemerintah
Sementara itu, Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Kementerian Sosial RI, Hartono Laras, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terbentuknya perhimpunan para praktisi CSR ini.

Menurut Hartono Laras, keberadaan MCSRI akan melengkapi berbagai bentuk peran masyarakat untuk mendukung pembangunan. “Ini sejalan dengan undang-undang, berbagai ketentuan dan peraturan. Ada Undang-undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial. Ada berbagai masalah sosial yang ditangani pemerintah, mulai dari korban tindak kekerasan, korban bencana alam, berbagai perlakukan diskriminatif, berbagai masalah aktual yang menjadi tugas pokok Kementerian Sosial. Kami senang sekali bisa bersama-sama, bersatu padu, bermitra, dengan tujuan yang sama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Dirjen Pemberdayaan Sosial ini.

Hartono Laras antara lain memaparkan bahwa bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang tidak mudah untuk menciptakan kesejahteraan sosial yang merata. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, multikultural, terdiri dari banyak suku dan agama, berada dalam wilayah geografis yang sangat luas, di negara kepulauan terbesar di dunia.

“Itu semua memerlukan suatu pengabdian, program, yang harus diwujudkan bersama-sama. Semua itu tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah, apalagi hanya oleh Kementerian Sosial. Tidak bisa hanya mengandalkan infrastruktur birokrasi yang ada,” ungkap Hartono Laras.

“Jumlah penduduk kita sekarang 255 juta jiwa. Masih ada 11,13 persen yang berada di bawah garis kemiskinan. Ini berarti sekitar 28 juta. Jumlah orang miskin yang ada di Indonesia ini berarti hampir sama dengan jumlah penduduk Malaysia, lebih banyak daripada jumlah penduduk Australia yang sekitar 23 juta jiwa dan jauh lebih banyak daripada jumlah penduduk Singapura yang sekitar 5 juta jiwa,” tambah Hartono Laras mengutip data untuk menggambarkan betapa seriusnya tantangan yang harus diatasi, utamanya yang terkait dengan masalah kesejahteraan.

Peluncuran buku dan presentasi CSR
Momen peresmian Masyarakat Cagak Sawita Rupa Indonesia ini juga ditandai dengan peluncuran buku karya Dr. M. Gunawan Alif, Cagak Sawita Rupa, Pilar Beragam Pengabdian Perusahaan di Indonesia. Karya Ketua MCSRI ini antara lain menjelaskan bagaimana inisiatif dan pelaksanaan CSR harus dilakukan secara strategis untuk memberikan manfaat optimal bagi pemangku kepentingan dan perusahaan.

Sementara itu, presentasi program CSR antara lain dilakukan oleh Japfa Comfeed, Chevron dan BCA.

Ignatius Herry Wibowo dari Japfa Comfeed antara lain memaparkan tentang Japfa4Kids, program CSR unggulan perusahaan ini yang berfokus pada peningkatan gizi dan pendidikan kebersihan untuk anak-anak.

“Kami mengadakan kampanye gizi Japfa4Kids sejak 2008 dan sampai sekarang telah menjangkau 548 sekolah, diikuti oleh 97.576 siswa sekolah dasar, 6.046 guru, di 70 kabupaten dan 20 provinsi,” terang Ignatius Herry Wibowo.

Selain Japfa4Kids, perusahaan ini juga melaksanakan banyak kegiatan CSR lain, seperti dukungan untuk olahraga catur, riset untuk vaksin hewan, pendampingan untuk dunia peternakan, mendorong kemandirian ekonomi mitra kerja, edukasi tanaman obat kepada anak,  program Green Campus di perguruan tinggi, dll.

Dali Sadli Mulia dari Chevron memaparkan antara lain program CSR yang berfokus pada pelestarian ekologi hutan, keanekaragaman hayati dan pemberdayaan masyarakat lokal di sekitar hutan, yakni program Green Corridor Initiative (GCI). Program CSR Chevron ini berlokasi di hutan yang membentang antara gunung Halimun dan Salak, yang dikelola oleh Taman Nasional Halimun-Salak.

“Kami melakukan di situ karena kondisi hutan masih baik, hutan terbesar di pulau Jawa, namun terancam oleh kegiatan manusia dan aktivitas sosial di sekitarnya. Kami membantu masyarakat untuk melestarikan hutan tanpa menghilangkan fungsi hutan bagi masyarakat, karena hidup masyarakat lokal secara ekonomi dan sosial juga tergantung pada hutan,” papar Dali Sadli Mulia.

Di lokasi itu, program GCI juga berusaha memantau kelestarian keanekaragaman hayati dengan memasang kamera perekam. “Ada macan tutul yang sudah kami temukan pada 2006 dan kami temukan kembai pada 2014. Bahkan ada dua macan tutul yang masih muda, yang tidak kami temukan pada 2006 tapi muncul pada 2014. Ini mengindikasikan keanekaragaman hayati masih terjaga di area hutan koridor ini,” tambahnya.

Presentasi program CSR dari BCA disajikan dalam format talkshow, dengan narasumber Sapto Rahmadi dari BCA dan Yudan Hermawan, Ketua Karang Taruna Desa Desa Bejiharjo, Kabupaten Gunung Kidul, yang mengelola destinasi wisata Gua Pindul yang didukung program CSR BCA.

Kedua narasumber ini antara lain berbagi pengalaman tentang bagaimana proses untuk mengubah Gua Pindul yang tadinya dipandang sebelah mata menjadi destinasi wisata potensial yang kini mampu menyedot banyak wisatawan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

“Kami tertantang untuk menciptakan sesuatu yang positif. Dengan adanya kawasan wisata ini, 800 tenaga kerja desa bisa kami berdayakan. Pemuda di sini tak perlu merantau ke luar daerah lagi,” ungkap Yudan. Saat ini, pemasukan yang dihasilkan dari potensi wisata desa ini mencapai lebih dari Rp 1 miliar per bulan.

Acara peresmian Masyarakat Cagak Sawita Rupa ini akhirnya ditutup dengan penyerahan plakat dan buku Cagak Sawita Rupa kepada Kementerian Sosial, penyerahan sertifikat untuk para anggota MCSRI serta berfoto bersama. *** (Sigit)