Bertempat di gedung Kementerian Sosial, Jl. Salemba Raya, Jakarta Pusat, Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa berkenan menerima kunjungan Masyarakat Cagak Sawita Rupa Indonesia atau Indonesia CSR Society (ICSRS), Kamis, 14 Januari 2016.

Dipimpin oleh Chairman ICSRS, M. Gunawan Alief, rombongan forum CSR ini terdiri dari para wakil perusahaan anggota Masyarakat Cagak Sawita Rupa Indonesia, antara lain Antam, BCA, Djarum Foundation, Freeport, Japfa Comfeed, Chevron, Unilever, Kompas, Trakindo, Jakarta Baru, dll.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam itu, M. Gunawan Alief menyampaikan maksud utama kunjungan, yakni mengundang Mensos untuk berkenan meresmikan acara peluncuran Indonesia CSR Society yang akan berlangsung di Museum Nasional, Jakarta Pusat, pada tanggal 27 Januari 2016 nanti.

Selain menyampaikan undangan, pertemuan yang berlangsung hangat itu juga dimanfaatkan oleh para anggota ICSRS untuk saling bertukar ide dan informasi dengan Menteri Khofifah serta menjajaki peluang bekerjasama.

M. Gunawan Alief selaku Chairman menyampaikan kepada Menteri mengenai apa itu Masyarakat Cagak Sawita Rupa Indonesia atau Indonesia CSR Society, apa visi dan misinya yang utama, siapa saja anggotanya, kegiatan dan pengabdian apa saja yang hingga saat ini telah dilakukan sehingga pada akhirnya dirasa perlu untuk meresmikan terbentuknya wadah CSR ini.

Cagak Sawita Rupa berarti “pilar beragam pengabdian”. Lembaga ini mewadahi para wakil departemen CSR dari berbagai korporasi untuk bersinergi bersama, berbagi gagasan dan informasi serta melakukan kegiatan bersama sehingga semakin menegaskan peran private sector dalam merealisasikan tanggung jawab sosial perusahaan. Kegiatan lembaga ini adalah pertemuan rutin untuk bertukar informasi, kunjungan lapangan ke perusahaan-perusahaan anggota sebagai sarana pembelajaran dan studi banding CSR, publikasi online kegiatan-kegiatan CSR melalui www.indonesiacsrsociety.com, publikasi buku serta kegiatan CSR bersama antar-perusahaan.

Selain Chairman, para anggota ICSRS juga berkesempatan untuk menyampaikan kepada Mensos mengenai kegiatan-kegiatan pengabdian sosial yang telah dilakukan masing-masing perusahaan yang mereka wakili.

Dalam kesempatan itu, Menteri Khofifah juga menyampaikan apa saja tantangan yang dihadapi oleh lembaga kementerian yang ia pimpin dan program-program apa saja yang berkemungkinan untuk dikerjasamakan, bersinergi bersama ICSRS.

Mensos misalnya menyampaikan bahwa Kementerian Sosial saat ini memiliki program membangun desa di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia berharap agar perusahaan-perusahaan anggota ICSRS dapat berperan pula untuk mengatasi tantangan di kawasan tersebut khususnya, dan secara umum di kawasan Indonesia Timur. Mengutip kajian tim antropologi UGM, Mensos mencontohkan bahwa di Papua, misalnya, masyarakatnya seakan-akan masih berada di abad ke-19 sementara warganegara RI lainnya sudah menikmati kemajuan abad ke-21.

Mensos mengusulkan agar Kementerian Sosial dan sektor swasta dapat merancang sebuah formula bersama untuk membangun desa, utamanya desa-desa di kawasan terluar atau lazim disebut “beranda Indonesia”, yakni dengan menciptakan suatu pilot project, atau proyek percontohan, yang bisa menjadi acuan bagi program-program selanjutnya. Menurut Menteri, kebutuhan mendesak di kawasan NTT adalah pendidikan, tanaman pangan bergizi, air bersih, dll.

“Proyek kerjasama pengabdian di wilayah NTT ini bersifat strategis mengingat saat ini ada rencana kunjungan Paus Fransiskus ke wilayah itu,” ungkap Mensos Khofifah.

Acara pertemuan ICSRS dan Mensos ini berakhir menjelang pukul 14:00, ditutup dengan berfoto bersama. *** (Sigit)