Pada hari Kamis, 6 Agustus lalu, Indonesia CSR Society (ICSRS) kembali menggelar pertemuan rutin dua bulanan. Kali ini yang mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumah adalah harian Kompas.

Ini berarti dua kali berturut-turut forum praktisi dan pemerhati CSR ini mengadakan pertemuan rutin di markas media nasional. April silam, forum yang mengusung semboyan “cagak sawita rupa” ini bertemu di markas harian berbahasa Inggris, The Jakarta Post, di kawasan Palmerah, Jakarta Barat. Sekarang, pertemuan diadakan di kantor harian Kompas yang masih berlokasi di kawasan yang sama. Sebagaimana biasanya, hadir dalam pertemuan kali ini para perwakilan perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam ICSRS.

Acara dimulai usai santap siang dan dibuka oleh perwakilan CSR Kompas-Gramedia, Hardanto Subagyo. Usai sambutan singkat, Pemimpin Redaksi Kompas, Budiman Tanuredjo, memaparkan panjang-lebar filosofi Kompas dan bagaimana filosofi itu diterjemahkan dalam praktik jurnalistik serta berbagai kegiatan lain, utamanya yang terkait dengan tanggung jawab sosial perusahaan.

Filosofi jurnalisme
Menurut Budiman, filosofi dasar Kompas diletakkan oleh pendiri harian ini, Jakob Oetama. Filosofi dasar itu adalah tanah air dan manusia. “Jika dicermati, seluruh isi harian Kompas sebetulnya bisa dikembalikan ke dua hal itu, tanah air dan manusia,” jelas Budiman Tanuredjo.

Cara Kompas menerjemahkan filosofi itu misalnya adalah melalui serial Ring of Fire alias Ekspedisi Cincin Api, sebuah serial laporan jurnalistik tentang berbagai gunung api di Indonesia. Contoh lainnya adalah dengan melihat Indonesia dari sisi sungai-sungainya. Tak kurang dari delapan sungai terpenting di tanah air ditelusuri dan ditulis laporannya. Contoh lain lagi adalah Tambora Challenge, sebuah laporan jurnalistik untuk memperingati 200 tahun erupsi dahsyat gunung Tambora di Sumbawa. Selain itu, Indonesia juga bisa dilihat dari sisi kekayaan kulinernya. Dan yang sedang dirancang Kompas adalah melihat kekayaan kultural Indonesia dari sisi adat ritual perkawinannya.

Laporan-laporan jurnalistik itu kemudian tidak hanya dipublikasikan melalui Kompas cetak namun juga media online, televisi, radio, in flight magazine Garuda dan buku. Menurut Budiman, cara mengemas ini ia sebut “one brand, one value, multiple platforms”. Selain publikasi dalam bentuk teks, laporan-laporan jurnalistik itu juga didukung oleh berbagai kegiatan.

“Aktivitasnya juga kita buat berbagai macam. Ada lari, sepeda, mendaki gunung. Kegiatan CSR juga kita lakukan dengan mengadakan bakti sosial di daerah-daerah. Ini merupakan upaya yang bertolak dari filosofi dasar Kompas untuk memperkenalkan Indonesia. Dan upaya ini dicoba ditempuh melalui cara yang betul-betul berbeda, bukan melalui ulasan tentang otonomi daerah dan semacam itu,” papar Budiman.

Berkat gabungan dari berbagai aktivitas itu, organisasi suratkabar dunia menobatkan Kompas sebagai “Newspaper of the World 2015”.

Menanggapi paparan Pemred Kompas itu, Chairman ICSRS, M. Gunawan Alif, mengemukakan pertanyaan mengenai bagaimana harian nasional ini memandang kegiatan-kegiatan CSR yang selama ini sudah dipraktikkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Menjawab pertanyaan itu, menurut Budiman, media-media saat ini umumnya tidak selalu berpegang pada kredo klasik, “Bad news is good news.” Ini artinya, hal-hal yang baik pun sesungguhnya bisa diwartakan menjadi berita yang menarik. “Sesuatu yang niatnya baik seharusya memang bisa ditularkan kepada yang lain-lain, yang juga berniat baik. Masalahnya hanyalah bagaimana mengemas itu,” ungkap Budiman.

Dalam kaitannya dengan cara mengemas itulah, engagement atau keterlibatan menjadi penting. Budiman memberikan contoh, saat tim Kompas melakukan ekspedisi menyusuri sungai-sungai, surat kabar ini sekaligus juga menyelenggarakan lomba menulis untuk para pelajar SMA. Mereka diminta membayangkan bagaimana nasib sungai Ciliwung di masa depan dan seperti apa solusinya. Ini contoh engagement, bagaimana anak-anak muda disadarkan mengenai isu-isu konservasi energi, lingkungan hidup, kecintaan alam, politik, dll. Ini berarti jurnalisme tidak lagi bekerja sendirian melainkan juga berkolaborasi dengan berbagai aktivitas lain yang sejalan dengan pikiran, nilai-nilai dan tanggung jawab yang diusung perusahaan.

“CSR yang baik tentu harus dipublikasikan juga, namun perlu didekati dengan pendekatan jurnalisme seperti itu tadi. Kalau hari ini menanam jagung, besok juga menanam jagung, lama-lama akan bosan. Masalahnya adalah bagaimana mengemas menanam jagung itu menjadi sesuatu yang menarik. Dalam prinsip jurnalisme, yang menarik itu tentunya kalau ada sesuatu yang baru, yang aktual. Itulah yang penting,” pungkas Budiman.

Dana kemanusiaan dan Bentara Budaya
Melengkapi paparan Pemred Kompas, presentasi berikutnya disampaikan oleh M. Nasir, Direktur Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas.

Kegiatan-kegiatan CSR Kompas sulit dipisahkan dari yang disebut Dana Kemanusiaan Kompas (DKK). Kelahirannya diawali dari kepedulian para pembaca Kompas saat harian ini memuat laporan tentang para korban letusan gunung Galunggung tahun 1982. “Kompas memberitakan sesuatu yang mengenaskan, tragedi kemanusiaan. Banyak yang tergerak lalu menyumbang. Saat itulah awal mula Dana Kemanusiaan Kompas,” terang M. Nasir.

Tentu saja, bencana alam dan tragedi kemanusiaan di tanah air bukan hanya erupsi Galunggung. Berbagai peristiwa datang silih-berganti dan terus mengundang simpati pembaca untuk menyalurkan bantuan melalui harian ini. Akhirnya, dari yang semula hanya berupa tim ad hoc, dibentuklah secara resmi sebuah yayasan yang khusus mengurusi dana bantuan dari pembaca ini pada tahun 2009.

Menurut M. Nasir, Yayasan DKK mengelola rekening khusus yang terpisah dari perusahaan, diaudit oleh auditor independen dan memiliki pengurus tetap yang dibantu para karyawan dalam penyalurannya. Namun demikian, sebagai sebuah yayasan, DKK tidak melakukan penggalangan dana tersendiri, di luar sumbangan dana dari para pembaca. Yang dimungkinkan hanyalah bekerjasama dengan pihak lain dalam penyaluran dana dan pelaksanaan program CSR. Misalnya, DKK pernah bekerjasama dengan Bank Mandiri untuk bersama-sama membangun instalasi air bersih di sejumlah tempat di Flores. “Terakhir kita mendapat sumbangan dana dari pergelaran para musisi untuk bencana gunung Kelud dan Sinabung. Kita juga menyelenggarakan pengobatan massal yang biasanya digabungkan dengan kegiatan ekspedisi-ekspedisi sepeda,” papar M. Nasir.

Selain DKK yang berfokus pada bencana dan kemanusiaan, Grup Kompas-Gramedia juga memiliki kepedulian tersendiri terhadap bidang budaya dan pendidikan. Khusus untuk dua bidang yang terakhir ini, kegiatan CSR dibiayai melalui sumber dana internal perusahaan. Salah satunya adalah penyelenggaraan program-program seni budaya yang digelar di Bentara Budaya. “Grup Kompas-Gramedia memiliki program-program budaya dan pendidikan. Wujudnya berupa Bentara Budaya yang ada di Jakarta, Yogya, Solo dan Bali, yang antara lain memanggungkan kekayaan seni dan budaya yang kurang tersentuh,” jelas Hardanto Subagyo. Sementara itu, bidang pendidikan diwujudkan dalam bentuk pelatihan-pelatihan menulis dan jurnalistik untuk para guru dan mahasiswa.

Diskusi penutup
Usai menyimak seluruh pemaparan rinci program-program CSR dari tuan rumah, para anggota ICSRS kemudian masuk ke agenda pertemuan selanjutnya, yakni membahas sejumlah rencana internal forum ini. Agenda yang didiskusikan dan diwarnai perdebatan hangat antara lain adalah rencana peluncuran forum “cagak sawita rupa” ini serta rencana kunjungan lapangan ke PT Freeport di Papua pada Oktober mendatang.

Forum pertemuan dua bulanan ini kemudian ditutup oleh presentasi ringkas dari tim The Jakarta Post mengenai agenda CSR mereka yang dikenal dengan nama “Museum Week” yang akan digelar di Museum Nasional dan mengambil tema “Spice Trail” alias “jalur rempah-rempah” (uraian lebih lengkap dapat dibaca dalam laporan “Indonesia CSR Society Gelar Pertemuan di Markas The Jakarta Post”). Akhirnya, seluruh acara pertemuan ICSRS ini ditutup pada kira-kira pukul 17:00 WIB. ***(Sigit)