“CSR bukanlah soal apa yang Anda lakukan dengan laba perusahaan, seperti misalnya memberikan sumbangan. CSR adalah soal bagaimana cara Anda memperoleh laba itu.”

Banyak perusahaan di Qatar yang berminat menjadikan program CSR mereka lebih profesional. Namun, menerapkan standar CSR seperti ISO 26000 masih termasuk sesuatu yang baru di Qatar, sebagaimana diungkapkan Presiden CSR Company International, Martin Neureiter, kepada Gulf Times.

Neureiter berada di Qatar atas undangan Ketua Qatar Quality Group (QQG), Jassim Salem al-Anshari, yang ingin mempromosikan tanggung jawab sosial di Qatar dan mengembangkannya sebagai konsep bisnis.

“ISO 26000 adalah standar global untuk CSR. Standar ini mulai banyak dipakai di kawasan Teluk namun belum banyak dipraktikkan di Qatar. Uni Emirat Arab adalah negara yang sudah mengadopsi standar ini paling luas, sedangkan negara-negara lain seperti Kuwait baru mulai melalukan langkah-langkah untuk mempraktikkan standar ini,” tutur Neureiter.

Minat untuk mempraktikkan CSR sangat tinggi di Qatar namun masih banyak yang belum memahami apa sebetulnya CSR itu. Banyak yang menganggap CSR sekadar alat pemasaran, kehumasan atau pencitraan perusahaan yang berkisar di seputar kegiatan amal, pemberian sumbangan, sponsorship, filantropi, yang sejatinya bukanlah CSR.

Sesudah bertemu dengan 25 perusahaan di sektor swasta maupun pemerintah, Neureiter mengungkapkan bahwa mayoritas perusahaan di Qatar bisa memahami bahwa pemberian sumbangan tidak akan menguntungkan bagi konsep bisnis dan strategi mereka.

“Di Qatar mulai tumbuh pemahaman bahwa pemberian sumbangan tidak akan membawa perusahaan ke mana-mana. CSR bukanlah soal pengeluaran biaya melainkan investasi dalam bisnis,” terang Neureiter.

Neureiter juga menambahkan bahwa kegiatan amal tetap bagus dan tidak boleh disepelekan, tapi itu bukanlah CSR. “ISO 26000 sudah mendefinisikan apa itu tanggung jawab sosial. Ada frasa yang menyatakan, jika Anda melakukan kegiatan amal, itu bagus. Namun jangan sebut itu CSR sebab memang bukan CSR.”

Menurut Neureiter, tidak ada pertemuan yang ia hadiri yang pesertanya menyatakan tidak berminat. “CSR adalah soal bagaimana saya menjalankan bisnis, bagaimana saya menangani dampak yang saya hadapi dalam menjalankan bisnis itu, serta bagaimana saya membangun hubungan dengan para pemangku kepentingan.”

“Semboyan saya, CSR bukanlah soal apa yang Anda lakukan dengan laba perusahaan, seperti misalnya memberikan sumbangan. CSR adalah soal bagaimana cara Anda memperoleh laba itu. Itulah yang perlu diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan,” ujar Neureiter yang berjumpa dengan perwakilan-perwakilan pemerintah, LSM, perusahaan, universitas dan lembaga-lembaga amal.

Ia juga menuturkan bahwa terdapat peluang bisnis dalam CSR. “Penting bagi perusahaan untuk mendengarkan dan mempelajari apa yang diharapkan oleh para pemangku kepentingan, lalu menemukan solusi bisnis sebagaimana yang mereka harapkan.”

“Dengan melakukan itu, perusahaan nyaris tidak perlu lagi beriklan dan melakukan pemasaran. Jika perusahaan sudah memenuhi harapan para pemangku kepentingan, mereka akan membeli produk perusahaan. Konsep itulah yang masih dilalaikan oleh banyak perusahaan saat terlibat dalam kegiatan-kegiatan amal yang kerap dikatakan sebagai program CSR.”

Neureiter mengungkapkan bahwa menerapkan standar ISO 26000 dalam strategi bisnis juga akan membuka peluang kerjasama bisnis dengan perusahaan-perusahaan internasional, yang dengan demikian meningkatkan nilai kompetitif di pasaran global.

“Jika ingin mendorong perusahaan-perusahaan serta industri kecil dan menengah di Qatar agar mampu masuk ke pasaran global, Anda harus membuktikan bahwa produk-produk Anda memang diproduksi melalui cara yang bertanggung jawab secara sosial,” pungkas Neureiter. (Sigit Djatmiko/ICSRS)