Para anggota Indonesia CSR Society (ICSRS) kembali menggelar pertemuan dua bulanan. Kali ini, acara rutin ini diselenggarakan di markas media berbahasa Inggris, The Jakarta Post, di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, Kamis, 30 April 2015 lalu.

Hadir dalam pertemuan “cagak sawita rupa” ini para wakil sejumlah perusahaan dan organisasi CSR, antara lain The Jakarta Post dan The Jakarta Post Foundation, Yayasan Bina Museum Indonesia, Antam, Djarum Foundation, Chevron, Unilever, Arnott, Freeport, Holcim, Jakarta Baru Multimedia, Kompas, Antara, CSR Indonesia, Dan Liris, Kelly Services dan Carrefour.

Acara dimulai sesudah santap siang dan dibuka dengan penyematan pin oleh Didik Kuntadi dari PT Antam yang mewakili ICSRS kepada Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Meidyatama Suryodiningrat. Penyematan pin merupakan seremoni wajib untuk menandai bahwa sebuah organisasi atau perusahaan telah resmi bergabung dengan forum CSR ini.

Selain kepada The Jakarta Post, penyematan pin juga dilakukan terhadap dua anggota baru lainnya, yakni Michelle Tjokrosaputro, CEO PT Efrata Retailindo (Dan Liris), serta Herni Dian, Director of Human Resources & Corporate Affairs, PT Trans Retail Indonesia (Carrefour).

Pendekatan “internal benefit” dari Dan Liris

Usai acara seremonial, pertemuan dilanjutkan dengan presentasi Michelle Tjokrosaputro. CEO Dan Liris yang pabriknya berlokasi di Sukoharjo, Jawa Tengah, ini memaparkan berbagai program yang dilaksanakan perusahaannya terkait dengan tanggung jawab sosial perusahaan.

Menurut Michelle, setiap unit produksi di perusahaannya merancang sendiri program CSR mereka. Kegiatan CSR juga rutin dilakukan, minimal sekali dalam sebulan. “Prioritas kami, yang pertama adalah kesejahteraan para pekerja di production unit itu sendiri. Kedua, keluarga mereka. Ketiga, para pekerja kami yang sudah pensiun. Lalu keempat, komunitas di sekitar lokasi perusahaan,” papar Michelle.

Program CSR yang menekankan kesejahteraan karyawan ini, menurut Michelle, dilakukan agar para pekerja merasa secure, bahkan sesudah mereka pensiun, sehingga mereka dapat bekerja dengan tenang. Untuk itu, Dan Liris juga menyelenggarakan berbagai macam training kepada para mantan karyawan, program bedah rumah, bantuan pembuatan warung kelontong, dll.

Selain program-program yang bersifat internal, aktivitas CSR Dan Liris juga diarahkan ke luar dengan membangun kerjasama dengan pemerintah setempat, asosiasi-asosiasi dan komunitas. Salah satunya, Dan Liris menyelenggarakan program beasiswa dan pemberian bantuan mesin tekstil kepada sekolah-sekolah menengah kejuruan. “Para siswa yang memenuhi persyaratan kami rekrut sebagai karyawan,” ungkap Michelle.

Bekerjasama dengan Bank Mandiri, Dan Liris juga pernah menyelenggarakan training kepada para pekerja seks komersial di area lokalisasi, lengkap dengan penyediaan mesin yang diperlukan untuk pelatihan. Tujuannya adalah pemberdayaan, agar mereka bisa melepaskan diri dari lingkungan lokalisasi itu. Hasilnya, sebagian di antara para PSK itu berhasil beralih profesi menjadi karyawan Dan Liris.

Presentasi Michelle ditanggapi antara lain oleh Harry Bustaman (Chevron), M. Iqbal Haikal (Jakarta Baru Multimedia), Suwarno M. Serad (Djarum Foundation) dan Taufik (CSR Indonesia).

Harry Bustaman antara lain mengungkapkan bahwa dalam program-programnya Dan Liris perlu membedakan antara employee benefit dan CSR, serta perlunya untuk lebih menekankan program-program yang bersifat sustainability ketimbang charity. Sementara itu, Suwarno M. Serad mengakui bahwa kegiatan CSR memang bisa bersifat internal dan eksternal. Menurut Suwarno, pendekatan yang diambil Dan Liris memberikan penekanan pada value. Wujudnya berupa internal benefit yang diberikan kepada karyawan.

“Ada pandangan bahwa seolah-olah CSR itu harus kelihatan dari luar. Padahal, yang kelihatan dari luar itu justru banyak yang bersifat kosmetik. Ini justru yang negatif. Jadi lebih baik sejahterakan dulu karyawannya,” terang Suwarno M. Serad.

The Jakarta Post: suara dari Indonesia

Menggantikan Michelle Tjokrosaputro, The Jakarta Post (TJP) sebagai tuan rumah juga mendapatkan giliran untuk presentasi. Executive Director The Jakarta Post, Riyadi Suparno, antara lain memaparkan sejarah koran berbahasa Inggris ini.

TJP diinisiasi oleh empat media yang satu sama lain sebetulnya saling berkompetisi, yakni Kompas, Tempo, Sinar Harapan dan Suara Karya. Berkat posisinya yang unik itulah, TJP mendapatkan karakternya yang independen. Tak heran jika koran ini mengambil semboyan “Always Bold, Always Independent.”

Menurut Riyadi, kendati TJP merupakan media yang berbasis bahasa Inggris, 70 persen pembacanya adalah orang Indonesia. Oleh sebab itulah positioning TJP adalah “Indonesia international community” dikarenakan pembacanya adalah masyarakat Indonesia yang sudah familiar dengan pergaulan dan isu-isu internasional.

Misi lain dari TJP adalah merepresentasikan suara Asia Tenggara, terutama Indonesia. Riyadi memaparkan, di setiap negara besar, orang mengetahui perkembangan kawasan tersebut dari medianya. Sebagai contoh, orang mengetahui perkembangan di Amerika Serikat dengan membaca New York Times, CNN atau Huffington Post. Perkembangan di Australia, misalnya, disuarakan oleh Sydney Morning Herald.

“Indonesia sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, rata-rata medianya berbahasa Indonesia. Karena itulah, berita mengenai perkembangan di Asia Tenggara didominasi oleh media dari Singapura. Jakarta Post membangun media digital dengan tujuan agar suara Indonesia juga terwakili, tidak hanya didominasi oleh suara dari Singapura saja,” terang Riyadi.

Terkait dengan CSR, media ini memiliki publikasi yang disebut Community Partnership, terbit dua kali dalam sebulan. Berisi ulasan seputar CSR, yang diterbitkan dalam publikasi khusus ini adalah program-program yang memenuhi dua parameter, yakni partnership dan sustainability.

Dari minat baca hingga museum

Presentasi Riyadi Suparno kemudian dilanjutkan oleh Hani Fibianti, Executive Director The Jakarta Post Foundation. Mulai beroperasi tahun 2008, The Jakarta Post Foundation (TJPF) mengambil pendidikan sebagai bidang pengabdiannya. Sesuai dengan jalur The Jakarta Post sebagai koran berbasis bahasa Inggris, yayasan ini berupaya melakukan edukasi kepada masyarakat dalam hal minat baca dan bahasa. Konteksnya adalah semakin menguatnya tantangan saat ini untuk menghadapi persaingan global.

“Cita-citanya, kita kumpulkan semua stakeholders yang concerned terhadap pendidikan. Kita ingin anak-anak mulai aktif membaca. Readership di Indonesia sangat minim, jadi kita dorong readership melalui koran-koran kita. Untuk itu kita mengadakan workshop, kegiatan-kegiatan yang sifatnya endorsing agar audience mampu berbicara dan berbahasa dengan baik dan benar,” tutur Hani.

Kegiatan TJPF terutama ditargetkan kepada anak-anak muda. Bekerjasama dengan Chevron, TJPF antara lain kerap menggelar kompetisi berbicara dalam bahasa Inggris, untuk mengasah keterampilan para remaja dalam hal berbicara di depan publik, berbahasa, mengungkapkan pendapat dan meningkatkan rasa percaya diri. Menurut Hani, sejauh ini TJPF sudah bekerjasama dengan institusi pendidikan di 11 provinsi, 28 kota, 580 sekolah, 40.000 murid dan 1.000 guru.

Program TJPF pada tahun 2015 ini tetap bergerak dalam bidang pendidikan, dengan penekanan pada pendidikan nilai-nilai yang layak dianut generasi muda. “Penekanan kita pada love, self-confidence, tolerance, creativity dan leadership. Kita kolaborasi dengan sekolah-sekolah, private sector, newspapers dan dengan komunitas,” kata Hani. Di luar institusi pendidikan formal, TJPF juga banyak membantu berbagai taman bacaan. Salah satu bentuknya adalah dengan menyediakan akses kepada The Jakarta Post e-paper sehingga masyarakat bisa turut membaca. Nilai-nilai lantas ditanamkan melalui diskusi mengenai isu-isu aktual.

Selain TJPF, The Jakarta Post juga mendirikan Yayasan Bina Museum Indonesia (YBMI). Misi dari yayasan ini adalah merangkul semua pemangku kepentingan untuk meramaikan museum dan melestarikan warisan budaya Indonesia. Hani Fibianti menjelaskan, program YBMI terpilah menjadi tiga jenis. Pertama B to B, yang berfokus pada kegiatan CSR. “Kita ingin private sector bersedia mengadopsi salah satu museum agar pengelolaannya lebih profesional,” jelas Hani.

Jenis kedua adalah yang bersifat B to C. Fokus kegiatannya sederhana, yakni menarik masyarakat luas agar suka berkunjung ke museum, meramaikan museum. Jenis ketiga adalah G to G, yang fokusnya adalah mengembalikan artefak atau heritage Indonesia yang saat ini berada di luar negeri. Dalam hal ini, YBMI juga mendorong pemerintah agar bersedia merevitalisasi berbagai museum sehingga layak menjadi rumah bagi warisan sejarahnya sendiri.

Menurut Hani, saat ini YBMI sedang berfokus pada kegiatan B to C. Merangkul sejumlah komunitas pencinta museum dan sejarah, yayasan ini menggelar kegiatan Weekend at the Museum sebulan sekali, dan Museum Week setahun sekali. Kegiatan Museum Week atau pekan museum sudah pernah diselenggarakan dua kali di mal Senayan City dan mampu menyedot jumlah peminat yang lumayan tinggi. Museum Week yang ketiga rencananya akan diselenggarakan pada Oktober 2015 nanti di Museum Nasional, Jakarta, dengan mengambil tema “Spice Trail.”

“Kita ingin dunia tahu, kalau China punya silk road, Indonesia punya spice trail. Jadi perdagangan di dunia itu dimulai dari bumi Indonesia. Generasi muda juga harus bangga menjadi orang Indonesia karena spices inilah yang tadinya mengubah peta dunia secara ekonomi maupun politik,” tutur Hani. “Saat ini kita fokus ke Museum Nasional karena kita juga ingin orang Indonesia bangga terhadap Museum Nasional, sama seperti orang Prancis bangga terhadap Museum Louvre.”

Tiga presentasi penutup

Pertemuan Indonesia CSR Society yang digelar di kantor The Jakarta Post kali ini diakhiri dengan tiga presentasi dan diskusi penutup.

Yang pertama, Chairman ICSRS, M. Gunawan Alif, mempresentasikan-ulang dan memandu diskusi tentang Frankfurt Book Fair (baca laporan: “CSRSI Diminta Dukung Indonesia Sebagai Tamu Kehormatan Frankfurt Book Fair 2015”).

Kedua, presentasi dan diskusi tentang rencana forum CSR ini menggelar kegiatan selama tiga hari di Malang pada akhir Mei ini, bekerjasama dengan Universitas Brawijaya.

Ketiga, presentasi M. Iqbal Haikal (PT Jakarta Baru Multimedia) dan Sindaka (Djarum Foundation) mengenai perkembangan dan perbaikan situsweb Indonesia CSR Society serta diskusi lain yang terkait dengan manajemen keorganisasian. ***(Sigit/ICSRS)