Frankfurt Book Fair merupakan pameran buku terbesar dan tertua di dunia. Digelar pertama kali tak lama sesudah Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak, sekarang usia pameran buku ini sudah lebih dari 500 tahun.

Acara internasional yang diselenggarakan setiap tahun ini berlangsung di kota Frankfurt, Jerman. Digelar selama lima hari, kini Frankfurt Book Fair diikuti lebih dari 7.000 peserta pameran yang datang dari 100 negara lebih. Frankfurt Book Fair juga mampu menyedot sekitar 286.000 pengunjung, terutama para penulis dan penentu kebijakan industri buku dari seluruh dunia.

Sejak 1976, Frankfurt Book Fair mengawali tradisi baru, yakni adanya Guest of Honour atau Tamu Kehormatan dari negara atau kawasan tertentu pada setiap pergelaran pameran. Pada pameran 2014 lalu, Finlandia tampil sebagai Tamu Kehormatan. Sedangkan pada pameran tahun 2015 ini, yang akan berlangsung mulai 14 hingga 18 Oktober nanti, Indonesia merebut kesempatan untuk menjadi Tamu Kehormatan pada acara bergengsi ini.

Dalam rangka mempersiapkan penampilan Indonesia sebagai Tamu Kehormatan inilah, Komite Nasional Guest of Honour Frankfurt Book Fair 2015 mengundang Indonesia CSR Society (CSRSI) untuk bertemu dan bermusyawarah. Pertemuan kedua pihak ini berlangsung di kantor stasiun televisi NET, Gedung The East, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada 14 April 2015 lalu.

Hadir dalam pertemuan tersebut para anggota Komite Nasional Guest of Honour Frankfurt Book Fair yang dipimpin oleh Goenawan Mohamad dan Slamet Rahardjo. Sementara itu, dari pihak CSRSI hadir antara lain M. Gunawan Alif (Chairman CSRSI), Didik Kuntadi (PT Antam), Suwarno M. Serad, Rudijanto Gunawan, Sindaka dan Yudi Eko Wicaksono (Djarum Foundation).

Ketua Komite Nasional, Goenawan Mohamad, antara lain memaparkan bahwa menjadi Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair merupakan kesempatan langka yang bahkan bisa dikatakan hanya terjadi sekali seumur hidup. “Berbagai negara berebut untuk menjadi Tamu Kehormatan. Finlandia harus menunggu selama 27 tahun untuk mendapatkan kesempatan ini. Indonesia hanya perlu menunggu 5 tahun. Oleh sebab itu, Indonesia harus tampil dengan produk terbaik dari dunia sastra dan seni,” ungkap mantan Pemred majalah Tempo ini.

Lebih lanjut Goenawan memaparkan seperti apa kira-kira Indonesia akan menampilkan diri dalam perhelatan itu. Tema besar yang dipilih adalah “17.000 Islands of Imagination”. Dengan tema itu, Indonesia akan merepresentasikan dirinya sebagai sebuah negeri yang merangkum ribuan pulau dan memiliki keanekaragaman budaya yang luar biasa.

Paviliun Indonesia pada Frankfurt Book Fair, yang luasnya mencapai 2.500 meter persegi, antara lain akan diisi dengan karya-karya sastra terbaik Indonesia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, Inggris, dll. Ada 300 karya yang kini sedang diterjemahkan. Selain itu juga akan dipamerkan berbagai buku tentang Indonesia dari negara-negara lain. Jumlah totalnya mencapai 1.100 judul, akan dipresentasikan di bagian paviliun yang disebut Island of Words.

Selain itu akan ada pula bagian paviliun yang disebut Island of Sight and Sound yang akan menjadi pusat seni pertunjukan, pembacaan karya-karya sastra dan seminar. Lainnya, Spice Island, akan menampilkan berbagai jenis rempah-rempah yang mewakili kekayaan alam dan keanekaragaman kuliner Indonesia. Pada bagian ini akan tersedia pula kafe dan bar yang menyajikan berbagai produk yang diolah dari rempah-rempah tersebut. Sementara itu, bagian Virtual Island akan mempertunjukkan produk-produk digital dan sains karya anak bangsa Indonesia yang sudah banyak digunakan di luar negeri. Sedangkan Children Land akan menyajikan berbagai buku anak-anak Indonesia yang sudah diterjemahkan ke berbagai macam bahasa.

Dengan demikian, dalam ajang pameran buku terbesar ini, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan bukan hanya akan memamerkan buku. Paviliun Indonesia akan menggelar berbagai macam program mulai dari seni pertunjukan, musik, teater, opera, pameran seni rupa, pameran arsitektur, pameran naskah kuno, pameran fotografi, pemutaran film dan lain-lain.

Aktor Slamet Rahardjo, yang ditunjuk sebagai penanggung jawab acara-acara pementasan seni, mengungkapkan bahwa terpilihnya Indonesia sebagai Tamu Kehormatan ini juga harus dimaknai dalam kaitannya dengan peringatan 70 tahun kemerdekaan Indonesia, yang jatuh tepat pada tahun ini. “Kita di sini bicara beyond the book. Buku adalah titik tolak awal, tetapi kita juga menerjemahkannnya menjadi seni pertunjukan, pameran, seminar. Karena itulah saya ikut hadir di sini. Penghargaan ini tidak bisa kita sia-siakan,” papar Slamet Rahardjo.

Menanggapi presentasi Komite Nasional tersebut, Chairman CSRSI Gunawan Alif mengungkapkan bahwa Indonesia CSR Society merupakan suatu kelompok lepas, yakni suatu himpunan cagak sawita rupa Indonesia yang para anggotanya ingin bersama-sama melakukan kegiatan CSR dengan cara-cara yang lebih baik. “Gagasan yang sudah dipresentasikan ini jelas sangat penting. Kita akan menyampaikannya kepada para anggota CSRSI dan akan kita bahas,” kata Gunawan Alif.

Senada dengan Gunawan Alif, Didik Kuntadi dari PT Antam juga menyambut positif presentasi tersebut. “Sekarang sudah menjadi jelas. Ini suatu kesempatan untuk menjadi Guest of Honour di Frankfurt. Kita sudah mengerti dan kami akan berdiskusi dengan tim, karena pasti ada teman-teman yang sangat tertarik. Kita akan lemparkan, this is our opportunity, apa yang akan bisa kita perbuat. Kita akan bikin meeting,” tanggap Didik Kuntadi.

Sementara itu, Suwarno M. Serad dari Djarum Foundation juga memandang kesempatan Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt ini sebagai momentum yang amat penting. “Ini momentum yang sangat bagus untuk merangsang, mendorong kebiasaan membaca dan menulis. Adapun bagi kita yang tergabung dalam CSRSI, sejauh mana kita bisa mendukung ajakan Pak Goenawan Mohamad tadi. Mudah-mudahan kami bisa memberikan kontribusi untuk mewujudkan karya-karya anak bangsa ini,” tanggap Suwarno M. Serad.

Dua mantan presiden RI dijadwalkan akan hadir dalam acara Frankfurt Book Fair 2015 ini, yakni B.J. Habibie dan Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden RI Joko Widodo juga diharapkan bisa menghadiri acara ini. Akan ada 10 ribu wartawan dari berbagai media seluruh dunia yang akan meliput pameran besar ini, dan itu juga berarti akan ada 10 ribu kamera yang akan menyorot Indonesia. Dengan demikian, ini adalah kesempatan bagi Indonesia untuk menamplkan diri, menciptakan-ulang Indonesia secara lebih positif di mata masyarakat internasional. Sedangkan di dalam negeri, acara ini juga penting sebagai kampanye agar masyarakat semakin mencintai membaca dan menulis. ***(Sigit/CSRSI)