Memadukan program CSR dengan pengembangan kepemimpinan dapat meningkatkan kepedulian para karyawan terhadap visi-misi perusahaan, ungkap hasil penelitian global yang dirilis oleh Hay Group, konsultan pengembangan sumber daya manusia (PSDM), 31 Maret 2016 lalu.

Temuan itu muncul pada saat yang tepat. Akhir-akhir ini para manajer PSDM berupaya keras menemukan cara agar para karyawan mau peduli dan sejalan dengan tujuan-tujuan perusahaan. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari penambahan kompensasi, tugas belajar, lingkungan kerja yang nyaman, namun semua itu tak membuahkan hasil yang memuaskan.

Survei yang dilakukan Hay Group ini melibatkan 7.500 responden dari kalangan manajer PSDM di 107 negara. Survei menemukan bahwa di seluruh level kepemimpinan, hanya 36% karyawan yang peduli dengan tujuan-tujuan perusahaan. Namun, sebanyak 87% responden menyatakan, memadukan CSR dengan pengembangan kepemimpinan akan bisa mengubah kecenderungan itu, meningkatkan kinerja dan kepedulian para karyawan.

Sebanyak 59% responden mengatakan bahwa perusahaannya sedang melakukan upaya demikian itu. Bagi perusahaan sendiri, para pemimpin yang punya visi tanggung jawab sosial terbukti sangat menguntungkan bagi perusahaan.

Adil Malia, Direktur PSDM Essar Group, mengungkapkan bahwa para pemimpin yang memiliki kepedulian sosial terbukti lebih matang dan punya kemampuan tinggi untuk menginspirasi. “Jika Anda terlibat secara sosial, ini menunjukkan bahwa Anda terdorong untuk menciptakan perubahan. Di lingkungan kerja, hanya para individu yang punya dorongan seperti itulah yang bisa menginspirasi karyawan-karyawan lain agar punya dorongan jiwa serupa,” kata Malia.

Ia menambahkan, jika para pemimpin mampu merangkul para pemangku kepentingan di luar lingkup perusahaan, kemampuannya untuk berhubungan dengan khalayak konsumen juga sangat tinggi sehingga menciptakan nilai tambah bagi perusahaan.

Bagi Sucharita Palepu, Kepala Kebijakan Publik di Tech Mahindra Ltd., tanggung jawab sosial adalah kunci terciptanya rasa peduli. “Para karyawan yang punya konsep tanggung jawab sosial juga lebih memiliki hubungan emosional dengan perusahaan yang menghasilkan loyalitas yang lebih tinggi,” ungkap Palepu.

Keunggulan ini membuat CSR menjadi bidang yang amat diminati oleh para pemimpin perusahaan. Di India, sebagian besar komite CSR dikepalai oleh para Chairman dan Chief Executive perusahaan.

“Saya kira, orang-orang di level pemimpin memiliki minat khusus terhadap CSR karena mereka sudah pernah menggunakan keahliannya untuk menciptakan perubahan dalam kegiatan bisnis, lalu sekarang mereka ingin mencoba apakah mereka juga bisa memanfaatkan keahliannya untuk mengubah masyarakat,” terang Santosh Jayaram, Kepala CSR dan Sustainabilitas di KPMG, sebuah perusahaan konsultan yang memberikan saran strategi CSR bagi banyak perusahaan.

Selain itu, bidang CSR juga memberi peluang bagi para pemimpin untuk berinteraksi dengan para pemangku kepentingan yang berbeda dan bahkan membina hubungan yang mendalam dengan para sejawat. Itu sebabnya kebanyakan inisiatif CSR selalu melibatkan peran para pemimpin tertinggi.

“Jika perusahaan ingin unggul dalam perebutan tenaga kerja terbaik dan mempertahankan para karyawan yang bernilai, perusahaan harus memastikan bahwa di lingkungan perusahaan orang-orang itu merasa terinspirasi. Para karyawan perlu memandang dirinya sebagai bagian dari desain besar dan di sinilah platform CSR bisa sangat membantu,” kata Nitin Razdan, Country Head Korn Ferry Hay Group.

Bahkan, dalam soal perekrutan, para pemimpin yang memiliki visi dan pengalaman sosial punya nilai lebih unggul dibandingkan yang tak punya pengalaman sosial. Malia dari Essar Group mengungkapkan, jika seseorang punya kesadaran tanggung jawab sosial, ini adalah pertanda pemimpin yang matang dan memahami realitas pasar.

“Saat kita merekrut, kita mempertimbangkan hal ini dan lebih menyukai pemimpin yang punya kecenderungan bertanggung jawab secara sosial,” kata Malia.

Tak hanya di level pemimpin, bahkan para mahasiswa sekolah bisnis pun lebih suka melamar ke perusahaan-perusahaan yang memiliki budaya tanggung jawab sosial.

Riset yang dilakukan terhadap lebih dari 3.700 mahasiswa dariĀ  29 sekolah bisnis terkemuka seperti Yale, Insead, London Business School dan Indian Institute of Management Bangalore menyimpulkan bahwa perusahaan-perusahaan yang tak peduli pada isu-isu lingkungan tidak diminati oleh para mahasiswa. Sekitar 20% responden mengungkapkan keengganan mereka bekerja di perusahaan yang reputasinya kurang bagus dalam isu lingkungan, terlepas dari besaran gajinya.

Dan faktanya, 44% mahasiswa bahkan bersedia menerima gaji lebih rendah untuk bekerja di perusahaan yang memiliki reputasi bagus dalam isu lingkungan. (Sigit Djatmiko/ICSRS)