“Praktik pelestarian bagi dunia bisnis masa kini bukan lagi sesuatu yang semata-mata baik untuk dilakukan, melainkan praktik yang memang harus dilakukan,” ungkap Arif Naqvi, pendiri dan Group Chief Executive Abraaj Group.

Naqvi, merupakan peserta utama Oslo Business for Peace Summit 2015 sekaligus pembicara utama pada Business for Peace Award Ceremony yang digelar di Oslo, awal Mei lalu. Ia menggambarkan pentingnya pragmatisme korporat yang baru, yang melampaui idealisme maupun niat baik.

Para penerima penghargaan Business for Peace Award 2015.

Para penerima penghargaan Business for Peace Award 2015.

Dalam masyarakat global yang semakin babak-belur oleh berbagai ketimpangan, konflik dan tantangan masalah lingkungan, Naqvi dan para peserta Oslo Business for Peace Summit mengemukakan bahwa satu-satunya pilihan bagi bisnis jangka panjang adalah komitmen yang nyata bagi kebaikan yang lebih besar.

“Kelestarian bukan lagi sekadar sarana yang diperlukan untuk membuat perusahaan agar lebih baik,” kata Naqvi. “Kelestarian menjadi penting bagi perusahaan untuk membuktikan bahwa ia berhak untuk tetap eksis,” tegas anggota dewan United Nations Global Compact dan penerima penghargaan dari Business for Peace Foundation tahun 2013 ini.

Sebagaimana dilaporkan Forbes.com, 7 Mei lalu, pada pahun 2015 ini Business for Peace Foundation memberikan penghargaan kepada lima wirausahawan global berkat karya mereka yang dianggap “businessworthy”, sebuah istilah yang oleh Per Saxegaard, pendiri dan kepala eksekutif yayasan ini, dimaknai sebagai karya yang “menginspirasi pelaku bisnis untuk menyeragamkan diri dengan cara berpikir menang-menang (win-win) dan tindakan yang mengawinkan laba dengan tujuan-tujuan yang lebih mulia.”

Para penerima penghargaan diseleksi oleh empat orang anggota komite yang terdiri dari dua orang penerima hadiah Nobel bidang perdamaian dan dua lagi penerima hadiah Nobel bidang ekonomi.

Penerima penghargaan tahun ini adalah: (1) Juan Andres Cano dari Colombia, CEO Semilla, sebuah grup konsultan etika, dan Value4Chain, sebuah platform teknologi untuk manajemen pelestarian; (2) Merrill Joseph Fernando dari Sri Lanka, pendiri Dilmah, salah satu produsen teh terkemuka di dunia dan penganjur standar etika yang melampaui anggapan konvensional tentang “perdagangan berkeadilan” (fair trade); (3) Zahri Khouri, pengusaha Palestina yang mendirikan Palestinian National Beverage Company dan yang mendorong pengembangan profesional dan personal dalam komunitasnya; (4) Poman Lo, direktur pelaksana grup Regal Hotels International di Hong Kong, pendiri Century Innovative Technology Limited dan pencipta acara televisi beranimasi tiga dimensi untuk pendidikan, “Bodhi and Friends”; dan (5) Paul Polman, CEO Unilever, perusahaan global yang berhasil mendorong para pemilik sahamnya untuk mengadopsi pendekatan kelestarian yang luas dalam meningkatkan pertumbuhan perusahaan.

Para penerima penghargaan dan pendukung Business for Peace Foundation tampaknya sama-sama sepakat untuk menganut bentuk kapitalisme yang berlandaskan nurani dan mereka yakin bahwa dengan melakukan tindakan yang benar itu mereka justru akan mendapatkan manfaat. Sebagaimana diungkapkan Polman saat menerima penghargaan, bisnis memikul kewajiban untuk menyesuaikan diri sehingga kapitalisme dapat menelurkan solusi kreatif bagi berbagai tantangan masa kini.

Kepercayaan sebagai Brand
“Kepercayaan pasti akan menjadi fondasi bagi bisnis apapun saat ini,” ungkap Naqvi menjelang acara pemberian penghargaan itu. Ia percaya bahwa kewajiban untuk bertanggung jawab secara sosial merupakan bagian dari tradisi komersial yang amat tua. “Adam Smith mengatakan bahwa tugas pelaku bisnis adalah menjadi pemangku kepentingan yang terlibat dalam masyarakat,” papar Naqvi.

Menurut Naqvi, peran kepercayaan dalam membangun brand akan segera menjadi amat penting. Ia meramalkan, dalam waktu yang tak lama lagi, seorang konsumen yang melihat tiga merek air kemasan di rak toko akan cenderung memilih merek mana yang memberikan dampak positif terbesar bagi masyarakat.

Pendiri Dilmah, Fernando, membedakan antara bisnis yang sekadar memproduksi komoditas dan bisnis yang membangun integritas. Bisnis jenis yang kedua itu mampu membuat produk yang berkualitas dan membanggakan, sekaligus mempunyai kepedulian terhadap komunitas, bukan sekadar mengejar keuntungan jangka pendek. Fernando mengungkapkan, ia sejak lama menolak mengambil jalan pintas dalam membangun imperium bisnisnya yang kini mendunia.

Menganjurkan bahwa bisnis bisa menjadi sarana untuk menciptakan perdamaian samasekali bukan sikap naif atau idealistik. Dalam karya berjudul “Better Angels of Our Nature: Why Violence Has Declined”, Steven Pinker bahkan berpendapat bahwa kapitalisme lebih berjasa ketimbang agama atau politik dalam menciptakan “efek pemberadaban” yang pesat dalam beberapa abad terakhir ini. Menurut Pinker, “perdagangan secara damai” berjasa meminimalkan cara-cara yang menggunakan senjata dan menggantikannya dengan perjanjian-perjanjian bisnis.

Para pendukung pendekatan “bisnis untuk perdamaian” berpendapat bahwa peluang-peluang di masa mendatang sangat menjanjikan bagi perusahaan yang mengupayakan kebaikan yang lebih luas melalui cara-cara yang mulia. Namun cara ini juga mensyaratkan pergeseran dari CSR yang saat ini sekadar menjadi bagian tersendiri di dalam tata-kelola korporasi menuju CSR yang menjadi bagian paling mendasar dari korporasi. Kepentingan mencari laba yang sekaligus tercerahkan itu akan bersifat pragmatis, mendesak untuk dilakukukan dan jelas sangat menguntungkan semua pihak. (Sigit Djatmiko/ICSRS)