Berawal dari obrolan santai di sebuah restoran, sejumlah perusahaan menggelar pertemuan. Bertajuk kunjungan budaya dengan Djarum Foundation sebagai tuan rumah, mereka menggali kesamaan pandangan. Alhasil, lahirlah gagasan-gagasan tentang tanggung jawab sosial yang diusung bersama antar perusahaan.

csr-society-Djarum-01

Monumen itu berbentuk seperti dua belah tangan yang menampung. Di puncaknya, serupa mangkok setengah lingkaran menyatu dengan dua belah tangan itu sebagai penyangga. Siang itu, monumen tampak mengkilap kemerah-merahan dipanggang matahari. Pada dinding lingkaran, yang menyerupai mangkok di atas monumen, terukir peta kepulauan Indonesia. Itulah salah satu bangunan yang terkesan seperti land mark dan dapat dijumpai, jika Anda berkunjung ke Djarum Foundation Park, di kawasan Djarum Oasis Kretek Factory.

Dengan latar monumen itu, pada tanggal 12 September 2013 yang lalu, tepat tengah hari, sekitar 14 orang sempat mengambil foto bersama. Mereka adalah perwakilan dari sekitar sembilan perusahaan maupun lembaga yang dijamu oleh PT. Djarum untuk melakukan serangkaian kegiatan yang bertajuk: Cultural Visit Corporate Social Responsibility (CSR) Society Indonesia, di Kudus, Jawa Tengah.

Perwakilan perusahaan tersebut di antaranya, Suwarno H. Serad, Rudijanto Gunawan, Sindaka dan Yudi Eko Wicaksono dari Djarum Foundation. Artsanti dari Japfa Comfeed. Fauzan Mufid dan M. Iqbal Haikal dari Jakarta Baru. Dina Ekaharti dari Arnotts. Harry Bustaman dari Chevron, dan Didik Kuntadi dari Antam. Sedangkan Sapto Rachmadi dan Inge Setiawati dari Bank Central Asia (BCA). Yang lainnya Kusumo Adinugroho dari Total E&P Indonisie, serta Gunawan Alif dari Universitas Indonesia.

Sesuai agenda acara yang sudah dijadwalkan, rombongan itu memang diundang oleh Djarum selaku tuan rumah, untuk mengunjungi berbagai unit kegiatannya di Kudus. Salah satunya, ke Djarum Foundation Park (taman). Ada sekitar 27 hektar luasnya taman itu. Meski di bawah terik matahari, para peserta Cultural Visit CSR Society dengan memakai topi cowboy terlihat bersemangat menyusuri jalan-jalan di taman. Seraya dipandu oleh panitia, mereka diperkenalkan dengan berbagai bangunan yang ada di sana.

Indonesia CSR Society

Karena disebut taman, tentu saja kawasan yang terhampar luas itu didominasi warna hijau. Rumput seakan berbaris melapisi tanah tertata rapi. Berbagai aneka tumbuhan khas taman berpadu padan dengan pepohonan dalam formasi yang rancak.

Nah, di dalam areal itulah terdapat berbagai bangunan yang menyimbolkan kepedulian Djarum terhadap kegiatan CSR. Semisal, replika piala-piala dari Thomas-Uber Cup, Sudirman Cup, dan All England.

Di saat rombongan berhenti untuk rehat sejenak pada sebuah pendopo, di sebelah kanannya terlihat bangunan dengan arsitektur tradisional. Sepintas lalu rumah tradisonal itu mirip dengan Joglo pada umumnya. Padahal tidak, karena ada keunikan tersendiri baik secara Interior maupun eksterior, sehingga bangunan itu disebut: rumah adat khas Kudus.

Rumah Joglo Kudus

Selain itu, tempat utama lainnya di dalam taman Djarum Foundation, adalah bangunan unit pembuangan limbah yang juga tampak memakan luas lahan besar. Sistem pembuangan limbahnya dinamakan dengan Water Treatment and Composting Plant. Hasil pengendapan dari proses pengolahan limbah tersebut dapat dijadikan pupuk kompos.

Sungguh suatu harmonisasi yang unik di mana unit produksi dan pengolahan limbah dapat diwadahi dalam areal berupa taman. Namun bukanlah hal yang mengherankan, bila mengingat Djarum Foundation yang sudah bergerak dari tahun 1951 itu sendiri ternyata punya filosofi yang senafas: Tumbuh dan Berkembang dengan Lingkungan.

Nah, jika dicermati lebih jauh lagi taman itu sebenarnya adalah simbol dari lima pilar Djarum Foundation. Kelima pilar itu adalah Djarum Bakti Sosial (dimulai 1951), Djarum Bakti Olahraga (dimulai 1969), Djarum Bakti Lingkungan (dimulai tahun 1979), Djarum Bakti Pendidikan (dimulai 1984), dan Djarum Bakti Budaya (sejak tahun 1992).

Selepas kunjungan dari taman Djarum Foundation, peserta kembali disuguhkan dengan kegiatan CSR lainnya, yang bahkan menorehkan catatan sejarah dengan tinta emas. Apalagi kalau bukan program olahraga bulutangkis yang telah mencetak legenda-legenda bulu tangkis Indonesia di pentas internasional. Sebut saja misalnya, Liem Swie King, Ardi B Wiranata, Hariyanto Arbi dan masih banyak lagi.

GOR Djarum Foundation

Rombongan lantas diajak panita untuk menyaksikan sendiri wujud nyata program tersebut yang salah satunya berlangsung di Gedung Olah Raga (GOR) PB Djarum. Di dalamnya terlihat sejumlah lapangan bulutangkis dan puluhan anak-anak usia pelajar giat berlatih.

 

Md|Fz